Merantau: Menghibur Mimpi

foto by : Adin Amiruddin 

Merantau lalu menjadi sukses, menjadi impian kebanyakan orang. Bertualang di dunia baru lalu mengeruk uang sebanyak-banyaknya, terlihat sebagai pilihan yang menyenangkan.

Salah satu kota yang menjadi opsi untuk merantau adalah Jakarta. Ibu kota, hampir selalu menjadi pusat peradaban suatu Negara, dan Jakarta adalah pusat segala akses di Indonesia. Selulus kuliah, anak-anak muda seperti berlomba-lomba merantau ke ibu kota dan mencari pekerjaan. Ada yang menyerah lalu pulang ke kampung halaman, namun tak sedikit yang sukses menuai uang di kota besar.

Sebagai tempat perputaran uang paling besar di Indonesia, maka Jakarta identik dengan gedung pencakar langit yang bertebaran dan tidak tertata dengan baik. Sebagai kota industri, membuat kota ini padat dengan bangunan dan transaksi jual beli. Hal itu menyebabkan kota ini penuh dengan orang-orang dengan orientasi uang: sibuk bekerja dari pagi sampai pagi lagi. Hal tersebut berulang secara terus-menerus dan tidak sedikit yang akhirnya mengalami depresi berkepanjangan. Sulit menemukan hiburan alam yang bisa melegakan tekanan mental akibat bekerja. Kesehatan mental sangat dipengaruhi oleh aktivitas sehari-hari.

Tempat wisata hijau dan pemandangan alam yang kurang membuat banyak orang mencari pelarian dalam bentuk lain. Seperti yang disebutkan di atas, segalanya bisa didapatkan di ibukota. Tempat-tempat hiburan seperti klub malam dan kafe, berhamburan di Jakarta. Anda dengan mudah menemukan masyarakat urban kelas menengah di tempat-tempat serupa. Tidak hanya itu, obat-obat terlarang dan ayam-ayam kampus juga sangat mudah didapatkan. Jika Anda anak rantau yang tidak tahan godaan hiburan anak kota, maka bersiap-siaplah atas gaji yang hanya menumpang lewat setiap bulannya.

Saat ini, budaya seni menjadi hal yang seksi di antara anak-anak muda millennials. Semacam kurang gaul jika tidak tahu gerakan-gerakan alternatif yang digagas di dunia seni. Awalnya, tujuan untuk membuat gerakan alternatif ini adalah gerakan protes atas dunia hiburan yang terlalu mewah dan tidak membawa dampak positif. Tetapi hal itu mulai berbalik. Dunia seni kini menjadi kemewahan tersendiri bagi masyarakat urban. Jakarta lagi-lagi menjadi tempat yang tepat untuk mengakses berbagai hiburan dalam dunia seni. Tentu saja, bagi pecinta seni, Jakarta pun menjadi surga. Seni saat ini menjadi pilihan hiburan selepas jam kantor.

Di Jakarta, setiap minggu kita punya banyak pilihan acara musik mana yang sesuai selera untuk didatangi. Pusat-pusat kebudayaan seperti Salihara atau Goethe Institute juga sering melaksanakan acara pameran lukisan, foto, atau musik. Tempat-tempat yang penuh aktivitas kesenian dilaksanakan oleh anak-anak urban kreatif juga berhamburan, pada umumnya gratis atau cukup murah dijangkau kelas menengah. Tempat seperti Gudang Sarinah Ekosistem yang terdiri dari berbagai komunitas seni sering bergantian melaksanakan kegiatan. Banyak pula kafe-kafe yang hampir setiap hari menyuguhkan musik seperti Paviliun 28, Rolling Stone café, atau Hard Rock Cafe. Tempat-tempat tersebut menjadi pilihan untuk melepas penat setelah bekerja keras.

Seni, khususnya musik, adalah salah satu ciri mengenali budaya suatu masyarakat. Budaya bermusik telah ada sejak dahulu namun dalam bentuk bunyi-bunyian untuk ritual tertentu. Hingga akhirnya bunyi-bunyian itu menjadi sarana hiburan dalam kerajaan dan berkembang hingga kini. Peradaban di luar Indonesia juga tentu saja sangat mempengaruh gaya bermusik Indonesia seiring dengan perkembangan teknologi dan akses yang mudah.


Kapal Udara, salah satu grup musik pop folk, dengan mudah menceritakan budaya melalui budaya pula. Musik adalah budaya, maka mereka melakukan gerakan budaya dengan musik dan menciptakan lagu “Merantau” sebagai ciri khas budaya anak-anak Sulawesi, khususnya Bugis. Daerah asal mereka ini memang terkenal dengan daerah yang kebanyakan anak muda yang memilih merantau. Hal ini terjadi secara turun-menurun. Budaya merantau tersebut dikenal dengan istilah “sompe”. Mereka melakukan tradisi ini demi mendapat kehidupan yang lebih baik. Maka dari itu, di beberapa daerah terdapat kampung Bugis. Bukan hanya di Indonesia, bahkan di luar negeri.

Jakarta pun menjadi salah satu kota pilihan orang-orang Sulawesi untuk merantau. Di Jakarta tidak sedikit, kita bisa menemukan perkumpulan orang-orang Sulawesi dan tentu saja banyak yang sukses, apalagi menjadi pedagang. Sulawesi memang terkenal sebagai kota pedagang, maka anak-anak rantau pun memilih menjadi pedagang di daerah rantauan. Ahli dagang ini pun menjadi keahlian yang didukung oleh keahlian membuat kapal orang-orang Sulawesi. Jadi mereka merantau ke luar pulau Sulawesi menggunakan kapal dan menjadi pedagang di daerah rantauan.

Lagu Merantau ini serasa mewakili perasaan anak-anak rantau yang merasakan penat bekerja di ibu kota. Mimpi-mimpi besar anak muda seringkali kandas karena persoalan ekonomi dan merantau adalah salah satu solusi untuk memperbaiki kehidupan ekonomi keluarga. Tekanan mental akibat bekerja memang tinggi di Jakarta, otomatis hal itu membuat kita mencari pilihan-pilihan untuk menghibur diri, ke acara musik salah satunya. Bekerja terus-menerus dan menunggu keajaiban tetiba kaya adalah penantian tiada akhir.

Manusia pada dasarnya memang tidak pernah puas dan tidak pernah merasa kaya. Dengarlah lagu “Merantau” sebagai penghiburan mimpi-mimpimu.


Weny Mukaddas | Pustakawan Katakerja

*Tulisan ini merupakan interpretasi atas lagu Merantau Kapal Udara

Share:

Leave a Reply