Ada Seru dari Hulu, Dengarkanlah !

Kali pertama mendengar Kapal Udara di tahun 2015, musiknya yang menghentak dan riang, telah berhasil mengantar saya dengan selamat dan bahagia menuju sebuah suasana yang asing namun terasa dekat.

Saya tidak ingat persis lagunya, namun tabuhan cajon, petikan gitar Ale yang bergairah, dan suara berat Ayat membawa saya menemui sebuah tempat di mana yang tumbuh hanya suka cita—lalu saya melihat pesta panen di sawah-sawah. Menemukan pesta penyambutan nelayan setelah mengarungi lautan berminggu-minggu. Menjumpai orang-orang menggelar acara bakar ikan di kolong rumah. Bertemu tarian-tarian penggugah semangat di ujung malam—kesan itu begitu melekat. Dan sejak saat itu, di ruang dengar saya, Kapal Udara telah berhasil lepas landas.

Pertemuan dengan Kapal Udara yang meninggalkan kesan menawan, tidak coba saya sisipi dengan harapan: bisa mendengarkan mereka dua atau tiga tahun kemudian. Mereka muncul dengan labelitas musisi kampus yang sejauh ingatan saya tidak akan bisa bertahan. Mereka suka berkarya, mereka suka menghibur, mereka suka bermusik, mereka beraktivitas seni, tapi semua itu hanya sebatas pelengkap dirinya sebagai mahasiswa. Muncul di kegaiatan-kegiatan kampus, lalu mereka akan raib setelah status mahasiswanya tidak lagi bergelora.

Apalagi seni dalam hal ini musik, setahuku tidak pernah diandalkan untuk bisa menjadi industri besar di kota ini (Makassar). Terlebih bagi pekerja seni kampus, menurut saya ceritanya selalu sama: dunia di luar kampus yang gempita, mereka benturkan keras dengan idealisme yang kadang kekanak-kanakan. Sehingga karya mereka yang ciamik harus berhenti karena persoalan yang dihadapi terlalu “dihitam-putihkan”. Sangat disayangkan.


Sementara itu, skena musik Makassar sejak awal 2012 mulai menampakkan kerja kerasnya. Panggung-panggung tergelar di hampir tiap pekan. Genre musik pun tidak lagi melulu Punk, Rock atau Pop. Balada, Pop Alternative, Grunge, Shoegaze, dan Folk mulai menemukan pendengarnya.

Musisi-musisi baru berdatangan, dan mereka yang lama pun tidak berhenti berkarya. Kemajuan tersebut tidak lain karena atmosfir geliat industri kreatif yang sedang hangat-hangatnya serta adanya respon yang positif dari masyarakat. Dan hal yang memukau adalah, ide-ide dan kerja-kerja kolaboratif semakin menggelinding dalam membangun proses berkesenian yang sesungguhnya.

Lalu kemudian, panggung yang tersedia banyak di kota ini, ternyata tidak berhenti mempertemukan saya dengan Kapal Udara. Kepesimisan yang awalnya saya bangun berganti harapan-harapan kecil pada mereka. Mereka bertahan dan itu bukan pendirian yang mudah. Mereka menemukan pendengar, dan mereka menghargai setiap panggung dengan totalitas. Lalu, single “Melaut” singgah di ruang dengar saya. Kata-katanya minim, serupa puisi-puisi pendek, diksinya mudah dikenali, dan gampang dimengerti.

Lalu, benih-benih harapan tadi tumbuh besar untuk mereka sejak itu. Saya yakin, Kapal Udara akan mengantarkan banyak cerita pada pendengarnya. Penampilan mereka selalu sama membahagiakannya sejak kali pertama. Meski wajah personilnya bergonta-ganti, hentakan iramanya tidak bisa menahanmu larut lalu sama-sama menari.

Ayat, Ale, Bobby dan Dadang resmi menahkodai Kapal Udara sejak Februari 2016. Yang menarik, mereka sama-sama bertemu dan belajar di FISIP UNHAS. Bobby jurusan Sosiologi dan ketiga lainnya di jurusan Antropologi. Latar belakang pendidikan keempat personil Kapal Udara tersebut sangat lekat dengan masyarakat. Mereka mengkaji, melihat, meneliti, terjun langsung dan memiliki materi yang kaya untuk dipadatkan menjadi lagu. Tidak mudah memang, tapi dalam lagu “Melaut” mereka berhasil mewajahkan nelayan dengan sangat cantik.

Di penghujung 2015, kabar bahwa Kapal Udara serius menggarap karya mereka untuk kemudian dijadikan mini album, adalah kabar baik di tengah tingginya apresiasi terhadap karya musisi Makassar. Sebelumnya, Tabasco, Speed Instinc, Theory of Discoustic, telah mengambil langkah maju. Sayangnya semangat itu mencapai puncaknya setelah karya berhasil ditelurkan dalam bentuk album CD atau EP. Persoalan launching, publikasi, marketing, branding tidak dikerjakan dengan detil hingga tuntas. Sehingga, euforianya terhenti sesaat setelah lagu-lagunya di kemas ke dalam cakram.

Kabar baik perihal Kapal Udara mengendap berbulan-bulan, tapi proses berkarya mereka tidak berhenti. “Menari”, mulai mereka release di panggung. Liriknya minim dan padat. Menari saya dengarkan sebagai seruan atas hak manusia untuk kerja keras mereka. Semua orang berhak untuk merayakan capaian-capaian kecil dan besar dalam hidup mereka.

Lalu sepanjang 2016 sampai pertengahan tahun, kota ini dihujani dengan karya. Beberapa band merilis albumnya: Melismatis mengeluarkan album kedua sekaligus sebagai album perpisahan setelah 10 tahun berkarya bersama; mini album Sanctuary Moon; juga dari pendatang baru yang masih belia Suhu Beku; disusul album Crunch-nya Minor Bebas; serta paketan musik skanya Makassar Rock Steady. Geliat ini berhasil menciptakan atmosfir yang positif. Secara sadar mereka percaya bahwa karya mereka harus didengarkan dan dibicarakan.


Pertengahan tahun 2016, Kapal Udara memasuki tahap persiapan pembuatan EP nya. Saya mendengar keseluruhan karyanya. “Menanam”, “Menyambut”, dan “Merantau” melengkapi dua lagu sebelumnya. Kelima lagu tersebut memiliki benang merah yang kentara. Kapal Udara menegaskan seruan agar kita kembali pada muasal. Mereka menerjemahkan nilai-nilai lokalitas yang sejatinya lestari. Pun tanpa menegasikan sektor-sektor dalam struktur masyarakat kita.

“Menanam dan “Melaut”, adalah hal yang tidak boleh ditanggalkan. Pada petani dan nelayan: hasil tanah dan hasil laut, harusnya cukup menghidupkan. Tidak perlu berganti semen seperti di Kendeng, bertikai dan berbuah darah dan luka serupa di Takalar, atau berganti gedung seperti di Losari. “Merantau” adalah pilihan, bahwa hidup adalah gerak maju. Hijrah adalah menemukan kemungkinan-kemungkinan, tapi sepatutnyalah kita tetap pulang. “Menyambut” mengurai sejarah bagaimana kita besar sebagai manusia yang permisif, yang senang mappangngiyye dan kadang lupa betapa berharganya diri kita. Keseluruhan lagu dalam EP ini memang tak henti berseru, seperti tajuknya “Seru dari Hulu”.

Proses kreativitas tim Kapal Udara menurut saya, pun dijalani dengan sehat. Mereka mengajak banyak orang untuk terlibat dalam EP ini. Mulai dari art work yang dikerjakan oleh seniman handal Gunawan Adi (Benang Baja), yang menginterpretasi lima lagu tersebut. Tidak berhenti di situ, Kapal Udara juga mengajak penulis, peneliti, mahasiswa, untuk menerjemahkan setiap lagu mereka dalam narasi yang lebih panjang serta paparan data yang lebih real terkait lagu-lagu tersebut. Kemudian tulisan tersebut dikemas ke dalam bentuk zine dan dibagikan secara gratis.

EP Kapal Udara ini adalah proyek bersama, proyek kolaborasi yang tidak boleh berhenti di sini. Walau membutuhkan waktu yang tidak cepat, dan proses yang berat—karena benturan konsep dan berbagai ide—tapi pada akhirnya karya yang dihasilkan, menciptakan iklim yang sehat untuk skena Makassar.

Oktober 2017, Kapal Udara secara resmi lepas landas. Segala kerja keras, waktu, tenaga, materi dan ide yang terkuras mungkin tidak akan terbayar lunas apalagi dalam hitungan rupiah (sekali lagi, industri musik Makassar, bagi pasar tidak semenarik kuliner atau fashion). Walau berjalan lambat, namun orang-orang seperti kalian yang mengapresiasi karya ini, akan memastikan skena dan industri musik kota ini akan terus bergerak.

Baca zine nya, perhatikan artworknya dan dengarkan lagunya! Setelah lepas landas, Kapal Udara akan melaut pun mengudara. Tidak perlu mencari jalan aman, jalan mudah, jalan cepat, atau jalan lurus. Tapi, yang berliku, terjal, melelahkan, berbatu, menegangkan adalah perjalanan yang sesungguhnya. Dan selanjutnya, biarkanlah nada dan suara itu terus berseru dari hulu.


Harnita Rahman.

Pengelola Kedai Buku Jenny

Share:

Leave a Reply